Di Indonesia yang saat ini memasuki musim hujan, kondisi lingkungan yang lebih lembap bisa menjadi tantangan bagi kesehatan kura-kura. Tortoise memang rentan terhadap beberapa penyakit yang dapat berkembang pesat dalam kondisi kelembapan tinggi. Adanya musim hujan juga seringkali membuat lingkungan sekitar menjadi lebih basah. Air yang tergenang atau tanah yang lembab dapat menjadi sarang bagi parasit atau bakteri yang dapat mengganggu kesehatan kura-kura.
Mengamati kura-kura secara rutin selama musim hujan merupakan hal yang penting. Memperhatikan apakah ada perubahan pada aktivitas mereka, apakah mereka makan dengan baik, atau apakah ada tanda-tanda kesehatan yang memburuk seperti mata keruh, kulit yang terlihat tidak sehat, atau perilaku yang tidak biasa. Maka dari itu berikut kami rangkumkan beberapa penyakit yang bisa timbul pada tortoise selama musim hujan :
Infeksi Respiratori

Infeksi pernapasan pada kura-kura adalah kondisi yang cukup umum terjadi terutama saat musim hujan yang membawa kelembaban tinggi. Ketika terpapar terus-menerus pada keadaan lingkungan yang lembap, kura-kura rentan terhadap masalah pernapasan. Gejala infeksi pernapasan pada kura-kura bisa bervariasi termasuk batuk, bersin, pilek, atau kesulitan bernapas.
Infeksi pernapasan dapat berkembang menjadi masalah serius jika tidak diobati, perawatan medis yang tepat akan membantu memastikan bahwa kura-kura mendapatkan perawatan yang diperlukan untuk mengatasi infeksi pernapasan dan mencegah kondisi tersebut menjadi lebih parah.
2. Infeksi Kulit

Kulit kura-kura memerlukan lingkungan yang tepat untuk tetap sehat. Kelembaban berlebih bisa menciptakan kondisi yang ideal bagi pertumbuhan jamur atau bakteri. Ini sering terjadi di daerah-daerah yang lembab dan kurang ventilasi, di mana kura-kura mungkin tinggal.
Kondisi kulit yang lembap terus-menerus bisa merusak lapisan pelindung kulit kura-kura, membuatnya lebih rentan terhadap infeksi. Jamur seperti Fusarium atau Geotrichum, serta bakteri seperti Pseudomonas atau Staphylococcus, dapat tumbuh dan mengakibatkan iritasi, ruam, atau bahkan infeksi kulit yang serius.
3. Saluran Pencernaan

Lingkungan yang basah atau terlalu lembap dapat memiliki dampak negatif pada saluran pencernaan kura-kura. Kondisi lingkungan ini bisa menjadi pemicu bagi pertumbuhan bakteri yang berpotensi merugikan pada sistem pencernaan kura-kura.
Kura-kura adalah hewan yang rentan terhadap infeksi bakteri pada saluran pencernaan mereka. Kelembaban berlebihan dapat menciptakan kondisi yang mendukung pertumbuhan bakteri patogenik, seperti Salmonella atau E. coli, yang dapat mengganggu kesehatan pencernaan kura-kura. Infeksi ini bisa mengakibatkan masalah serius seperti diare, gangguan pencernaan, atau bahkan menyebabkan dehidrasi.
4. Penyakit Parasit

Musim hujan seringkali menciptakan lingkungan yang lebih lembap dan hangat, kondisi ideal bagi parasit seperti cacing atau protozoa untuk berkembang biak. Kura-kura dapat terinfeksi oleh berbagai jenis parasit yang bisa mengganggu kesehatan mereka secara keseluruhan.
Infeksi parasit pada kura-kura bisa berasal dari berbagai sumber, seperti air minum yang terkontaminasi, makanan yang tidak bersih, atau bahkan dari lingkungan sekitarnya. Contohnya, cacing usus seperti Strongyloides atau Nematoda dapat menginfeksi saluran pencernaan kura-kura, sedangkan protozoa seperti Cryptosporidium atau Giardia juga bisa menyebabkan masalah kesehatan yang serius.
Gejala infeksi parasit pada kura-kura bisa bervariasi, mulai dari penurunan nafsu makan, diare, hingga masalah pernapasan atau kulit. Penting untuk menjaga kebersihan lingkungan kura-kura, memberikan makanan yang bersih, serta memantau tanda-tanda gejala infeksi parasit secara berkala.
5. Hipotermia

lingkungan yang terlalu dingin dan lembap dapat menjadi ancaman serius bagi kura-kura. Mereka adalah hewan yang memerlukan suhu tubuh yang stabil untuk menjaga fungsi tubuh yang optimal. Hipotermia, atau penurunan suhu tubuh yang drastis, bisa terjadi pada kura-kura jika terpapar pada lingkungan yang terlalu dingin dan lembap untuk waktu yang lama. Kura-kura adalah hewan poikilotermik, yang berarti mereka bergantung pada lingkungan sekitarnya untuk mengatur suhu tubuh mereka. Jika suhu sekitar terlalu rendah, kura-kura mungkin tidak dapat mempertahankan suhu tubuh yang tepat. Hipotermia dapat menyebabkan reaksi biokimia dalam tubuh kura-kura terganggu, memperlambat sistem metabolisme mereka, dan bahkan dapat mengganggu fungsi organ vital.
Tanda-tanda hipotermia pada kura-kura bisa meliputi aktivitas yang melambat, gerakan tubuh yang terbatas, dan reaksi tubuh yang lemah. Untuk mencegah hipotermia, penting untuk memberikan kondisi lingkungan yang tepat, termasuk pemanasan tambahan seperti lampu pemanas atau batu pemanas di dalam habitat kura-kura. Mengatur suhu di dalam ruang atau tempat kura-kura juga sangat penting, terutama di musim dingin atau di daerah dengan suhu yang cenderung rendah. Hal ini membantu memastikan bahwa kura-kura dapat tetap dalam suhu tubuh yang aman dan mencegah terjadinya hipotermia yang berpotensi fatal.
Penting untuk memantau tanda-tanda penyakit pada kura-kura selama musim hujan dan segera mengambil tindakan jika terdapat gejala yang mencurigakan. Memberikan lingkungan yang kering, bersih, dan hangat, serta memastikan kura-kura mendapatkan asupan nutrisi yang cukup, dapat membantu melindungi mereka dari penyakit-penyakit ini, Stay healty guys